JAKARTA PUSAT – Dua kerangka manusia ditemukan di lantai 2 Gedung Astra Credit Companies (ACC) Kwitang. Kerangka ini ditemukan tim teknis saat renovasi pasca-kebakaran besar. Mereka adalah Muhammad Farhan Hamid (23) dan Reno Syahputra Dewo (24). Keduanya adalah peserta demonstrasi yang hilang sejak kerusuhan Kwitang pada akhir Agustus 2025.
Hasil identifikasi forensik dari RS Polri Kramat Jati memastikan kecocokan DNA. Waktu kematian diperkirakan lebih dari satu bulan sebelum kerangka ditemukan. Penyebab kematian dipastikan akibat luka bakar parah.
Kejanggalan yang Disorot Keluarga Korban
Meskipun hasil tes DNA menunjukkan kecocokan, pihak keluarga, diwakili Ayah Farhan, Hamidi, menyampaikan beberapa kejanggalan:
- Tanggal Wafat vs Penemuan: Keluarga mempertanyakan tanggal wafat yang tercantum. Kerangka ditemukan setelah dua bulan lebih hilang. Menurut Hamidi, jasad yang tinggal tulang pasti memerlukan waktu lama.
- Keutuhan Barang Bukti: Kalung yang disebut milik Farhan diserahkan dalam kondisi utuh. Namun, liontinnya disebut hangus. Hamidi mempertanyakan mengapa dua bahan dengan jenis sama bisa memiliki kondisi berbeda setelah terbakar.
- Lokasi Penemuan: Ada informasi bahwa Farhan terakhir terlihat dengan luka tembak di lutut. Hamidi bingung, jika tertembak dan tidak bisa berjalan, mengapa kerangkanya ditemukan di lantai dua Gedung ACC?
Pertanyaan Besar dari KontraS dan Komnas HAM
Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) dan Komnas HAM juga menyuarakan kejanggalan. Mereka mendesak investigasi yang lebih transparan:
- Keterlambatan Penemuan: Area gedung sudah dipasangi garis polisi sejak awal September. KontraS mempertanyakan mengapa kerangka baru ditemukan pada akhir Oktober 2025.
- Akses Keluar Tertutup: Komisioner Komnas HAM, Saurlin P. Siagian, menyatakan lantai dua tempat penemuan jenazah memiliki jerjak besi. Ini membuat korban tidak memiliki akses keluar (escape plan) saat kebakaran besar terjadi dari bawah.
- CCTV Rusak: Semua rekaman CCTV di dalam gedung dinyatakan rusak atau mati total. Hal ini menimbulkan kecurigaan. Tidak ada dokumentasi visual yang menjelaskan mengapa Farhan dan Reno berada di dalam ruangan tertutup tersebut, padahal mereka bukan pekerja gedung.
KontraS menilai kepolisian tidak boleh berhenti pada identifikasi saja. Diperlukan penyelidikan mendalam untuk mengungkap seluruh kronologi dan motif di balik kematian tragis ini. Amnesty International Indonesia juga mendorong adanya tim forensik dan investigasi independen.







