Jakarta – Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri tengah menyiapkan strategi pengamanan terpadu menghadapi lonjakan mobilitas masyarakat pada masa libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru). Berdasarkan survei pergerakan kendaraan dan distribusi barang, potensi mobilitas nasional diperkirakan mencapai 119 juta pergerakan, sehingga langkah antisipatif yang terukur dan kolaboratif sangat diperlukan.
Kepala Korlantas Polri, Irjen Pol. Agus Suryonugroho, menyampaikan bahwa pengamanan Nataru difokuskan pada empat klaster utama yang dianggap krusial untuk menjaga kelancaran arus lalu lintas dan keselamatan masyarakat. “Kalau dilihat dari pergerakan kendaraan dan barang, hasil survei mencapai 119 juta. Namun demikian, klaster yang harus kita amankan ada empat,” ujar Irjen Agus.
Klaster pertama meliputi jalan tol, jalan arteri, jalan provinsi, dan jalan alternatif yang menjadi jalur utama mobilitas selama libur panjang. Pengaturan lalu lintas di ruas ini diutamakan karena potensi lonjakan volume kendaraan sangat besar.
Klaster kedua adalah pelabuhan penyeberangan, khususnya di titik strategis seperti Merak, Ketapang, dan Gilimanuk yang sering mengalami antrean panjang selama musim liburan karena menjadi simpul penting pergerakan kendaraan antarwilayah dan antar-pulau.
Klaster ketiga mencakup kawasan wisata dan jalur menuju destinasi wisata, termasuk pengamanan di stasiun, bandara, dan terminal angkutan umum. Seluruh simpul transportasi ini harus dipersiapkan optimal untuk mengantisipasi peningkatan jumlah penumpang.
Klaster keempat fokus pada tempat ibadah dan lokasi perayaan malam Tahun Baru guna memastikan kegiatan keagamaan dan perayaan berjalan aman, tertib, dan kondusif.
Dalam pelaksanannya, Korlantas menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor demi keberhasilan pengamanan Nataru. “Skenario pengamanan ini sudah kami persiapkan bersama stakeholder, karena kolaborasi dan koordinasi adalah kunci keberhasilan Operasi Lilin,” tegas Irjen Agus, merujuk pada sandi operasi kepolisian Natal dan Tahun Baru.
Contoh nyata kolaborasi terlihat pada penerapan rekayasa lalu lintas di jalan tol, termasuk pengalihan arus, contraflow, dan one way, yang dilakukan berdasarkan parameter terukur seperti rasio volume kendaraan terhadap kapasitas jalan. “Ketika terjadi bangkitan arus dan muncul bottleneck di jalan tol, maka harus segera diurai dengan contraflow. Bila diperlukan, bisa dilakukan one way,” jelasnya.
Meski demikian, untuk periode Nataru 2025, penerapan sistem one way akan bersifat situasional dan bergantung pada hasil pemantauan volume kendaraan di lapangan. “Untuk Nataru, sepertinya tidak menggunakan one way. Semua akan dilihat dari rasio kendaraan yang ada di jalan tol,” tambah Irjen Agus.
Dengan strategi berbasis data, kolaborasi antar instansi, serta rekayasa lalu lintas yang adaptif, Korlantas Polri optimistis pengamanan Natal dan Tahun Baru 2025 akan berjalan aman, tertib, dan lancar bagi masyarakat.







