Setiap tahun, jutaan masyarakat Indonesia bergerak menuju satu arah yang sama untuk pulang ke kampung halaman demi merayakan Lebaran bersama keluarga tercinta. Fenomena ini membuat jalan tol, jalur arteri, pelabuhan, hingga bandara dipenuhi arus manusia yang menjalankan tradisi tahunan tersebut. Bagi sebagian besar masyarakat, mudik bukan sekadar perjalanan fisik dari kota ke desa, melainkan sebuah perjalanan emosional untuk menyambung silaturahmi yang telah hidup selama puluhan tahun. Di balik jutaan kendaraan yang melaju, tersimpan satu harapan besar yaitu bisa sampai di rumah dengan selamat.
Negara memandang fenomena mudik ini bukan hanya sebagai pergerakan kendaraan semata, melainkan peristiwa sosial besar yang harus dijaga keberlangsungannya. Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri menempatkan keselamatan masyarakat sebagai prioritas utama dalam pengelolaan arus mudik Lebaran 2026 melalui Operasi Ketupat. Kakorlantas Polri, Irjen Pol Drs. Agus Suryonugroho, S.H., M.Hum., menegaskan bahwa pengamanan kali ini tidak hanya berkaitan dengan pengaturan lalu lintas, tetapi juga menyangkut perlindungan nyawa jutaan pemudik yang melakukan perjalanan pulang.
Operasi Ketupat 2026 secara resmi dinyatakan sebagai operasi kemanusiaan yang lebih luas dari sekadar operasi bidang lalu lintas. Kehadiran negara di jalan raya bertujuan untuk memastikan setiap warga dapat mudik dengan perasaan aman, selamat, tertib, dan lancar. Lonjakan mobilitas yang terjadi secara serentak ini berdampak langsung pada berbagai sektor transportasi dan aktivitas ekonomi daerah. Oleh karena itu, pengelolaan mudik dipandang sebagai sistem besar yang melibatkan kolaborasi antara kepolisian, kementerian, pemerintah daerah, hingga operator transportasi.
Kakorlantas memahami bahwa setiap kendaraan yang melaju di jalan raya membawa cerita keluarga yang ingin bertemu kembali setelah sekian lama terpisah. Di dalam mobil atau motor tersebut, ada orang tua yang menunggu anaknya pulang serta anak-anak yang menantikan suasana hangat Lebaran di kampung. Perspektif humanis inilah yang melandasi pendekatan pengamanan oleh Korlantas Polri, di mana fokus utamanya adalah mengamankan perjalanan keluarga, bukan sekadar angka statistik kendaraan di atas aspal.
Kehadiran negara selama musim mudik diwujudkan secara nyata melalui petugas kepolisian yang mengatur lalu lintas, keberadaan pos pengamanan, hingga layanan informasi perjalanan. Irjen Agus menekankan bahwa keselamatan perjalanan tidak bisa terjadi begitu saja secara kebetulan, melainkan harus dirancang melalui sistem yang matang. Aman adalah sebuah hasil dari perencanaan yang detail, penggunaan teknologi tepat guna, serta kesiapan personel yang siaga di setiap kilometer perjalanan masyarakat.
Pendekatan berbasis sistem ini telah menunjukkan hasil nyata pada tahun sebelumnya, di mana angka kecelakaan lalu lintas berhasil ditekan hingga 33 persen dan tingkat fatalitas korban menurun sebesar 51 persen. Meski capaian tersebut cukup signifikan, Korlantas Polri tidak ingin berpuas diri dan justru menjadikannya tantangan untuk memperkuat sistem pengamanan di masa depan. Walaupun volume kendaraan terus meningkat setiap tahunnya, standar keselamatan harus tetap menjadi prioritas utama yang tidak bisa ditawar.
Sebagai bagian dari persiapan matang, Korlantas Polri juga menggelar Tactical Floor Game (TFG) yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan seperti Kementerian Perhubungan hingga operator jalan tol. Melalui simulasi ini, disusun strategi rekayasa lalu lintas mulai dari sistem satu arah hingga contraflow untuk mengantisipasi kemacetan. Selain kesiapan personel, pemanfaatan teknologi ETLE Drone juga dilakukan untuk memantau kondisi arus secara real-time dari udara, sehingga potensi hambatan di lapangan dapat dideteksi dan ditangani secara lebih cepat dan akurat.

