JAKARTA – Negara harus mampu membaca pergerakan masyarakat dengan cepat. Hal ini sangat penting agar masalah di jalan bisa dicegah lebih dini. Command Center KM 29 Korlantas Polri hadir sebagai simbol modernisasi. Pusat kendali ini tidak lagi bekerja secara reaktif tetapi prediktif. Kakorlantas Polri Irjen Agus Suryonugroho memimpin langsung strategi cerdas ini. Melalui satu layar terintegrasi, Polantas memantau arus kendaraan secara real-time. Keputusan cepat diambil berdasarkan data akurat yang tersedia.
Command Center KM 29 kini menjadi ujung tombak pengelolaan arus. Terutama dalam menyambut puncak mudik dan Operasi Ketupat 2026. Kakorlantas Polri ingin melindungi jutaan pergerakan masyarakat Indonesia. Lokasi pusat kendali ini berada di Cikarang, Kabupaten Bekasi. Semua data lapangan dan visual CCTV dikumpulkan di tempat ini. Informasi tersebut diolah menjadi keputusan operasional yang sangat presisi. Polantas memastikan negara hadir sebelum masalah lalu lintas muncul.
“Satu layar kami pantau, jutaan pergerakan masyarakat bisa kami lindungi,” tegas Irjen Agus.
Fungsi Strategis Command Center KM 29 Korlantas Polri
Pusat kendali ini memiliki fungsi yang sangat vital bagi kelancaran jalan. Petugas memantau kondisi jalan melalui integrasi sensor lalu lintas. Data yang terkumpul dianalisis sebagai dasar pengambilan keputusan penting. Potensi kemacetan dan gangguan keamanan dapat dideteksi lebih dini. Command Center KM 29 juga menjadi pusat koordinasi bagi petugas lapangan. Hal ini mendukung rekayasa lalu lintas yang jauh lebih responsif. Integrasi data ini terbukti mampu meminimalkan berbagai risiko di jalan.
Kakorlantas Polri memadukan sumber data dari CCTV statis hingga drone. Antrean panjang di titik rawan dapat diprediksi sebelum terjadi. Petugas diarahkan ke lokasi yang tepat berdasarkan data nyata. Mobilitas masyarakat pun mendapat perlindungan yang lebih cermat. Teknologi ini menjadi sumber wawasan strategis bagi Operasi Ketupat 2026. Arus mudik dan balik diprediksi akan jauh lebih padat tahun ini. Oleh karena itu, persiapan berbasis data digital menjadi sangat krusial.
Visi besar Irjen Agus Suryonugroho adalah mendorong adopsi teknologi digital. Namun, beliau tetap tidak menghilangkan sisi humanis dalam pelayanan. Teknologi harus menjadi alat pemberdayaan bagi setiap petugas Polantas. Keputusan tetap berada di tangan personel yang paham kondisi lapangan. Teknologi membantu mempercepat dan menguatkan respons dari petugas tersebut. Hal ini menciptakan keseimbangan antara kecanggihan sistem dan empati manusia.
“Teknologi adalah pendukung, bukan pengganti petugas di lapangan,” ujar Irjen Agus.
Command Center KM 29 didukung oleh berbagai teknologi terkini. Ada ETLE Drone Patrol untuk memantau titik yang sulit dijangkau. Tersedia juga Mobile Command Center yang terhubung dengan sistem pusat. Sistem SMS Blast dikirimkan untuk memberi notifikasi real-time kepada warga. Data Operasi Keselamatan 2026 menunjukkan keberhasilan strategi ini. Angka kecelakaan turun signifikan sebesar 34,96 persen. Sementara itu, tingkat fatalitas korban turun hingga 51,06 persen.
Data bukan sekadar angka, tetapi dasar perlindungan nyawa manusia. Korlantas Polri siap menjadikan Command Center KM 29 sebagai pusat koordinasi utama. Analisis pergerakan kendaraan dilakukan untuk memastikan keselamatan publik. Negara bekerja lebih dulu sebelum ribuan kendaraan menumpuk di jalan. Hal ini membangun kepercayaan masyarakat terhadap kinerja kepolisian nasional. Keselamatan perjalanan warga menjadi prioritas paling utama bagi Korlantas.
Sistem ini adalah manifestasi nyata dari visi Kakorlantas Polri. Irjen Agus Suryonugroho menghadirkan keselamatan melalui teknologi dan koordinasi cerdas. Satu layar kini mampu memantau jutaan pergerakan masyarakat Indonesia. Di balik layar, ada tangan manusia yang peduli pada konteks sosial. Polantas berkomitmen menjaga keamanan setiap warga negara di jalan raya. Mari kita sambut mudik 2026 dengan rasa aman dan nyaman.

