Site icon jurnalismeinvestigatif.com

Kakorlantas Polri Irjen Agus Suryonugroho Prioritaskan Keselamatan Warga

JAKARTA – Pendekatan humanis Polantas sering kali disalahartikan masyarakat. Banyak yang mengira pendekatan ini adalah sikap kompromi. Namun, Kakorlantas Polri Irjen Agus Suryonugroho menepis anggapan tersebut. Beliau menegaskan bahwa humanisme dan ketegasan harus seimbang. Keduanya saling menguatkan demi keselamatan lalu lintas jalan. Ketegasan tanpa empati hanya akan melahirkan penolakan warga. Sementara itu, empati tanpa ketegasan bisa melemahkan aturan. Kakorlantas Polri menjaga keseimbangan kedua hal tersebut.

Kakorlantas Polri menempatkan aturan sebagai pilar keselamatan utama. Tanpa ketegasan hukum, keselamatan warga sulit untuk terwujud. Di bawah kepemimpinan Irjen Agus, penegakan hukum tetap konsisten. Pelanggaran berisiko tinggi akan tetap ditindak tegas. Contohnya adalah pelanggaran helm dan batas kecepatan kendaraan. Namun, setiap tindakan Polantas selalu disertai dengan edukasi. Kakorlantas Polri ingin masyarakat memahami alasan di balik aturan.

“Melayani bukan berarti lunak. Keselamatan tetap menjadi nilai tertinggi,” ujar Irjen Agus.

Kakorlantas Polri Gunakan Empati Perkuat Wibawa Hukum

Pendekatan humanis tidak akan mengurangi wibawa hukum Polantas. Sebaliknya, rasa empati justru memperkuat posisi hukum tersebut. Masyarakat lebih terbuka jika petugas bersikap sangat menghargai. Kakorlantas Polri meminta Polantas membaca situasi lapangan dengan cermat. Terkadang Polantas harus menggunakan cara persuasif terlebih dahulu. Namun, tindakan cepat juga diperlukan untuk mencegah risiko. Profesionalisme Polantas diukur dari ketepatan pengambilan keputusan mereka.

Kakorlantas Polri juga sangat terbuka terhadap kritik publik. Beliau menjawab kritik masyarakat dengan bukti kerja nyata. Data penindakan Polantas tetap berjalan secara rutin. Pengawasan di lapangan pun terus diperkuat oleh petugas. Kakorlantas Polri tidak bersikap defensif terhadap masukan warga. Kritik dijadikan bahan evaluasi untuk memperbaiki pelayanan publik. Ketegasan dan empati adalah dua sisi kebijakan yang sama. Keselamatan tetap menjadi prioritas utama bagi jajaran Polantas.

“Profesional itu tahu kapan harus tegas, dan kapan harus mengedepankan empati,” tambahnya.

Target Kakorlantas Polri Adalah Kepatuhan Dari Kesadaran

Kepatuhan karena rasa takut biasanya bersifat sangat sementara. Pelanggaran akan kembali muncul jika pengawasan petugas melemah. Kakorlantas Polri ingin membangun kepatuhan yang lebih lama. Beliau ingin masyarakat patuh karena sadar akan risiko. Perubahan perilaku pengguna jalan adalah target utama Polantas. Keberhasilan Polantas bukan hanya diukur dari jumlah tilang. Kakorlantas Polri ingin menciptakan budaya tertib secara mandiri.

Pembinaan personel Polantas terus difokuskan pada etika pelayanan. Kakorlantas Polri memastikan arahan ini sampai ke lapangan. Hal ini mencegah ketegasan berubah menjadi sebuah kekerasan. Polantas kini hadir dengan wibawa dan juga kemanusiaan. Kepercayaan publik pun menjadi modal penting bagi kepolisian. Masyarakat yang percaya akan lebih mudah menerima inovasi. Kakorlantas Polri sukses membawa Polantas menjadi institusi modern. Mari kita patuhi aturan demi keselamatan bersama di jalan.

“Kami ingin masyarakat patuh karena sadar, bukan karena terpaksa,” tegas Irjen Agus.

Exit mobile version